Showing posts with label Kumpulan teori-teori Para Ahli. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan teori-teori Para Ahli. Show all posts

Pengertian Pariwisata

Posted by Mulyandaru Trianto Monday, December 7, 2015 2 komentar
>

Pengertian-pengertian Pariwisata menurut Para Ahli

Pariwisata merupakan salah satu sektor yang dapat dikembangkan dan dapat memberikan kontribusi besar bagi suatu daerah atau negara. Selain itu, pariwisata juga dapat memberikan suatu lapangan pekerjaan bagi masyarakat dan mengurangi tingkat pengangguran. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pengertian pariwisata, berikut adalah beberapa definisi tentang pariwisata.

1.      Pengertian Pariwisata menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009

a.      Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang kunjungi dalam jangka waktu sementara. (Pasal 1 ayat 1)
b.     Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan pariwisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah dan Pemerintah Daerah. (Pasal 1 ayat 3)
c.   Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multi disiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan Negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah dan pengusaha. (Pasal 1 ayat 4)

2.      Pengertian Pariwisata menurut Muljadi

Ø  Pariwisata adalah suatu aktivitas perubahan tempat tinggal sementara dari seseorang, di luar tempat tinggal sehari-hari dengan suatu alasan apapun selain melakukan kegiatan yang bisa menghasilkan upah atau gaji. Selain itu, pariwisata merupakan aktivitas, pelayanan dan produk hasil industri pariwisata yang mampu menciptakan pengalaman perjalanan bagi wisatawan. Muljadi (2012:7)

3.      Pengertian kepariwisataan menurut Hans Buchli dalam Suwena dan Widyatmaja

Ø  Kepariwisataan adalah setiap peralihan tempat yang bersifat sementara dari seseorang atau beberapa orang, dengan maksud memperoleh pelayanan yang diperuntukkan bagi kepariwisataan itu oleh lembaga-lembaga yang digunakan untuk maksud tertentu. Hans Buchli dalam Suwena dan Widyatmaja (2010:14)

4.      Pengertian Pariwisata menurut Damanik dan Weber

Ø  Pariwisata adalah fenomena pergerakan manusia, barang dan jasa yang sangat kompleks. Damanik dan Weber (2006:1)

5.      Pengertian Pariwisata menurut Soekadijo dalam Suwena dan Widyatmaja

Ø  Pariwisata adalah gejala yang kompleks dalam masyarakat, di dalamnya terdapat hotel, obyek wisata, souvenir, pramuwisata, angkutan wisata, biro perjalanan wisata, rumah makan, dan banyak lainnya. Soekadijo dalam Suwena dan Widyatmaja (2010:15)

6.      Pengertian Pariwisata menurut Marpaung dan Bahar

Ø  Kepariwisataan adalah sebuah kegiatan yang dilakukan untuk orang yang melakukan kegiatan perjalanan. Meskipun pengertian pariwisata bukan sebuah industri, tetapi kepariwisataan dapat memberikan kenaikan berkembangnya keragaman industri. Marpaung dan Bahar (2002:14)

7.      Pengertian Pariwisata menurut Chalik dalam Suwena dan Widyatmaja

Ø  Pariwisata adalah perjalanan yang dilakukan secara berkali-kali atau berkeliling. Chalik dalam Suwena dan Widyatmaja (2010:14-15)

Refrensi :
A.J., Muljadi, Kepariwisataan dan Perjalanan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012.
Damanik, Jonianton dan Weber, Helmut, Perencanaan Ekowisata Dari Teori ke Aplikasi, Yogyakarta: Andi, 2006.
Marpaung, Happy dan Bahar, Herman, Pengantar Pariwisata, Bandung: CV. Alfabeta, 2002.
Suwena, I Ketut dan Widyatmaja, I Gst Ngr, Pengetahuan Dasar Ilmu Pariwisata, Bali: Udayana University Pres, 2010.
Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.

Read More ....

Teori-teori Metodologi Penelitian Menurut Para Ahli

Posted by Mulyandaru Trianto 6 komentar
>

Pengertian Teknik Pengumpulan Data, Pengertian Wawancara, Pengertian Observasi, Pengertian Dokumentasi, Pengertian Populasi, Pngertian Sampel.

Pengertian teknik pengumpulan data menurut Sugiyono 2013

Ø  Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Sugiyono (2013:224)

Pengertian teknik pengumpulan data menurut Juliansyah Noor 2011

Ø  Teknik pengumpulan data merupakan cara pengumpulan data yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Juliansyah Noor (2011:138)

Pengertian Teknik Wawancara (Interview) menurut Esterberg dalam Sugiyono 2013

Ø  Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Esterberg dalam Sugiyono (2013:231)

Pengertian Wawancara menurut Setyadin dalam Gunawan 2013

Ø  Wawancara adalah suatu percakapan yang diarahkan pada suatu masalah tertentu dan merupakan proses tanya jawab lisan di mana dua orang atau lebih berhadapan secara fisik. Setyadin dalam Gunawan (2013:160)

Pengertian Teknik Pengamatan (Observasi) menurut Sutrisno Hadi dalam Sugiyono 2013

Ø  Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikhologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Sutrisno Hadi dalam Sugiyono (2013:145)

Pengertian Pengamatan menurut Narbuko dan Achmadi 2013

Ø  Pengamatan adalah alat pengumpulan data yang dilakukan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki. Narbuko dan Achmadi (2013:70)

Pengertian Teknik Dokumentasi (Studi Dokumen) Menurut Sugiyono 2013

Ø  Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Sugiyono (2013:240)

Pengertian Teknik dokumentasi menurut Suharsaputra 2014

Ø  Dokumen merupakan rekaman kejadian masa lalu yang tertulis atau dicetak mereka dapat berupa catatan anekdot, surat, buku harian, dan dokumen-dokumen. Suharsaputra (2014:215)

Pengertian Populasi menurut Arikunto 2013

Ø  Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian. Arikunto (2013:173)

Pengertian Populasi menurut Bungin 2013

Ø  Populasi merupakan keseluruhan (universum) dari obyek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya, sehingga obyek-obyek ini dapat menjadi sumber data penelitian. Bungin (2013:101)

Pengertian Sampel menurut Arikunto 2013

Ø  Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Arikunto (2013:174)

Pengertian Sampel menurut Sutrisno Hadi dalam Narbuko dan Achmadi 2013

Ø  Sampel atau contoh (monster) adalah sebagian obyek atau subyek yang diselidiki dari keseluruhan obyek atau subyek penelitian. Selain itu, sampel juga merupakan bagian dari populasi yang benar-benar mewakili dari permasalahan yang akan diteliti. Sutrisno Hadi dalam Narbuko dan Achmadi (2013:107)

Referensi :
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2013.
Bungin, Burhan, Metodologi Penelitian Sosial dan Ekonomi : Format-format Kuantitatif dan Kualitatif untuk Studi Sosiologi, Kebijakan, Publik, Komunikasi, Manajemen, dan Pemasaran, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013.
Gunawan, Imam, Metode Penelitian Kualitatif : Teori dan Praktik, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2013.
Narbuko, Cholid dan Achmadi, Abu, Metodologi Penelitian, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2013.
Noor, Juliansyah, Metodologi Penelitian : Skripsi, Tesis, Disertasi, & Karya Ilmiah, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011.
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, R&D, Bandung: CV. Alfabeta, 2013.
Suharsaputra, Uhar, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Tindakan, Bandung: PT. Refika Aditama, 2014.

Read More ....

Metode Penelitian Menurut Sugiyono (2013)

Posted by Mulyandaru Trianto Friday, June 12, 2015 49 komentar
>

Pengertian-Pengertian Menurut Sugiyono (2013)

Pengertian Metode Penelitian

Menurut Sugiyono (2013:2) metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. 

Pengertian Teknik Pengumpulan Data

Menurut Sugiyono (2013:224) teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data.

  1. Teknik Wawancara, Menurut Esterberg dalam Sugiyono (2013:231) wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu.
  2. Teknik Pengamatan/Observasi, Sutrisno Hadi dalam Sugiyono (2013:145) mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikhologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.
  3. Teknik Dokumentasi, Menurut Sugiyono (2013:240) dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.
  4. Triangulasi, dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan datayang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada.

Pengertian Populasi dan Sampel


Terdapat perbedaan yang mendasar dalam pengertian antara pengertian "populasi dan sampel" dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karateristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi itu. Populasi itu misalnya penduduk di wilayah tertentu, jumlah pegawai pada organisasi tertentu, jumlah guru danmurid di sekolah tertentu dan sebagainya (Sugiyono, 2013:215).

Pengertian Purposive Sampling


Menurut Sugiyono (2013:218-219) purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek atau situasi sosial yang diteliti.

Pengertian Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain (Bogdan dalam Sugiyono, 2013:244). 


Untuk sumber lebih jelas dan lengkap bisa dicari di buku,

Berjudul : METODE PENELITIAN KUANTITATIF, KUALITATIF DAN R&D
Penulis : Prof. Dr. Sugiyono
Cetakan Ke-19, Oktober 2013
Penerbit Alfabeta, CV. Bandung

Read More ....

Kebijakan dan Langkah-langkah Pengembangan Pariwisata Indonesia

Posted by Mulyandaru Trianto Thursday, April 9, 2015 4 komentar
>

Menurut Muljadi (2012:72-78)

Dalam upaya mencapai sasaran pembangunan kepariwisataan Indonesia dan berdasarkan Rencana Repelita VII Pariwisata, diperlukan suatu strategi melalui kebijakan dan langkah-langkah yang harus laksanakan secara terus menerus. Kebijakan ini ditetapkan sebagai suatu pedoman dalam penyelenggaraan kepariwisataan. Kebijakan-kebijakan tersebut antara lain:

1. Menjadikan Pariwisata sebagai Penghasil Devisa Utama
Upaya memperkokoh perekonomian perlu peningkatan penerimaan devisa, di mana salah satu sektor potensialnya adalah sektor pariwisata. Untuk itu, kebijaksanaan yang ditempuh adalah:
a. Menggencarkan pemasaran dan promosi dengan memberikan peran yang lebih dominan bagi usaha pariwisata.
b. Meningkatkan kerja sama  dan koordinasi berbagai sektor terkait, baik di tingkat pusat maupun daerah dalam setiap kegiatan pemasaran dan promosi baik di dalam maupun luar negeri.
c. Mengharap lebih intensif pasar Asia Pasifik sehingga akan semakin meningkatkan pangsa pasar.
d. Menggarap sigmen pasar yang berpotensi pembelanjaan tinggi dengan didukung peningkatan mutu pelayanan dan diversifikasi produk.
e. Memberikan kemudahan wisatawan untuk mengadakan perjalanan.
f.  Meningkatkan promosi terpadu dalam lingkup bilateral, regional, dan multilateral.
g.  Meningkatkan citra pariwisata melalui keikutsertaan dalam event-event pariwisata internasional.
h.  Peningkatan kuantitas dan kualitas bahan promosi melalui penyajian data dan informasi yang akurat.

2. Menjadikan Pariwisata Nusantara sebagai Pendorong Pembangunan
Sebagai sektor pembangunan yang multidimensional, pengembangan pariwisata nusantara yang mempunyai potensi dampak pengganda yang relatif besar, sebagai pendorong pembangunan. Untuk itu kebijaksanaan yang ditempuh adalah:
a. Meningkatkan sadar wisata masyarakat melalui pemasyarakatan Sapta Pesona.
b. Mengembangkan promosi Dalam Negeri untuk menjadikan Nusantara sebagai daerah tujuan wisata bagi penduduk Indonesia.
c. Meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang kepariwisataan nasional.
d. Penyebarlusakan informasi objek dan daya tarik wisata serta sarana pendukungnya kepada masyarakat.
e. Peningkatan sarana dan prasarana untuk sigmen pasar wisnus (wisata remaja, lansia, dan penyandang cacat).

3. Meningkatkan Ketangguhan Kepariwisataan Nasional
Dalam rangka menghadapi era globalisasi yang penuh persaingan, maka produk wisata harus mampu meningkatkan ketangguhan di tengah-tengah persaingan yang cukup ketat. Untuk itu kebijaksanaan yang ditempuh adalah:
a. Menyusun perencanaan pengembangan pariwisata nasional untuk dijabarkan ke tingkat daerah dengan memperhatikan pola dasar pengembangan daerah, rencana Tata Ruang Daerah dan standardinasi mutu produk.
b. Penyesuaian pembangunan daerah tujuan wisata dengan potensi masing-masing, serta mempertimbangkan sasaran pasar yang akan diraih dengan mempertimbangkan tahap perkembangannya.
c. Pengembangan produk wisata di luar Jawa dan Bali dengan pemantapan dan peningkatan Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu, Kawasan Andalan Prioritas, dan kawasan tertentu lainnya dalam upaya mempercepat pemerataan pembangunan.
d. Pengembangan dan pengusahaan objek dan daya tarik wisata alam, budaya dan minat khusus sebagai komponen utama untuk meningkatkan produk wisata yang berkualitas.
e. Pembinaan dan pengembangan usaha jasa pariwisata dan pengusahaan jasa pariwisata seperti Biro Jasa Wisata (BPW), Pramuwisata, dan usaha jasa lainnya serta sistem pendukungnya.
f. Pembinaan dan Pengembangan Usaha Sarana Pariwisata dan pengusahaan sarana pariwisata (akomodasi, kawasan pariwisata, wisata tirta, restoran, angkutan wisata, serta sistem pendukungnya).
g. Mendorong peningkatan penggunaan produk dalam negeri.
h. Meningkatkan dan memperluas aksesibilitas guna mendukung pengembangan pariwisata.
i. Meningkatkan mutu pelayanan informasi kepariwisataan.
j. Pengembangan sistem informsi pariwisata melalui penyediaan pusat data yang handal.
k. Meningkatkan kualitas produk pariwisata sebagai antisipasi terhadap meningkatnya tuntutan wisatawan.
l. Peningkatan penggunaan IPTEK guna mendukung optimalisasi pengembangan pariwisata.

4. Peningkatan Sumber Daya Manusia Bidang Kepariwisataan
Sebagai penyelenggara kegiatan kepariwisataan, peranan sumber daya manusia sangat penting. Dengan memanfaatkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, maka kegiatan-kegiatan kepariwisataan dapat menghasilkan pelayanan yang profesional. Untuk itu perlu ditempuh kebijaksanaan-kebijaksanaan sebagai berikut:
a. Mengembangkan lembaga pendidikan dan latihan
Guna menghasilkan sumber daya manusia yang mampu memberikan pelayanan secara profesional di bidang kepariwisataan, perlu dikembangkan model pendidikan dan latihan dengan memberikan fasilitas fisik dan non-fisik dan memanfaatkan iptek modern.
b. Memperbanyak jumlah pemandu wisata dan penyedia profesional
Pelayanan jasa kepariwisataan juga bertumpu pada profesionalnya pemandu wisata dan penyedia. Peningkatan kemampuan profesional ini mencakup penguasaan dalam memahami dan menggunakan bahasa sehingga perlu dilakukan akreditasi terhadap lembaga penyelenggara pendidikan dan latihan di bidang kepariwisataan.
c. Mengembangkan kerja sama internasional
Kerja sama dalam memberikan pendidikan dan latihan secara internasional, dapat dimulai dengan kerja sama antara negara-negara ASEAN. Hal ini dimaksudkan meningkatkan profesionalnya pemandu dan penyedia wisata, dengan cara merasakan secara langsung pemberian layanan kepariwisataan.

5. Peningkatan Kemitraan Masyarakat, Swasta, dan Media Massa
Keberhasilan Pembangunan Kepariwisataan Nasional merupakan hasil kerja dan instansi pemerintah pusat dan daerah serta instansi swasta, dengan dukungan masyarakat dan media massa. Oleh karena itu, guna mencapai sasaran Pembangunan Kepariwisataan Nasional, perlu ditempuh kebijaksanaan sebagai berikut:
a. Peningkatan pembinaan media massa
Upaya menyebarluaskan obyek dan daya tarik wisata perlu terus ditingkatkan dengan mengajak serta keterlibatan media massa dalam pemberitaan secara nasional dan internasional. Oleh karena itu, penyampaian data dan informasi mengenai pembangunan kepariwisataan nasional perlu lebih ditingkatkan melalui berbagai forum dan kesempatan, dan dilakukan pembinaan terhadap wartawannya.
b. Peningkatan pembinaan terhadap organisasi kemasyarakatan
Penyertaan masyarakat dalam kegiatan kemasyarakatan dapat ditempuh melalui pembinaan organisasi-organisasi kemasyarakatan, khususnya yang berhubungan dengan penyelenggaraan kegiatan kepariwisataan, seperti upacara-upacara adat setempat.
c. Peningkatan pembinaan unit ekonomi setempat
Penyerataan lembaga-lembaga ekonomi daerah, seperti Koperasi Unit Usaha Cindramata, dan unit usaha lainnya sangat diperlukan untuk lebih memperbanyak akses ekonomi kepariwisataan. Penyerataan ini dilakukan secara bersama-sama dengan upaya pembinaan, agar penyelenggaraan kewirausahaan ini mengikuti selera pasar bagi wisatawan mancanegara dan nusantara.
d. Mendorong peran serta organisasi kemasyarakatan dalam meningkatkan pemahaman terhadap pembangunan kepariwisataan.

6. Peningkatan Kerja Sama Lintas Sektoral
Pembangunan sektor pariwisata menyentuh segala aspek kehidupan masyarakat, sehingga keterpaduan pembangunan pariwisata memerlukan peningkatan kerja sama lintas sektoral, sehingga perlu ditempuh kebijaksanaan sebagai berikut:
a. Memantapkan peraturan dan kelembagaan dalam penyelenggaraan kepariwisataan.
b. Menanamkan pengertian yang sama tentang pentingnya sektor pariwisata kepada lembaga-lembaga terkait, baik di pusat maupun daerah.
c. Meningkatkan kerja sama antar lembaga dengan memfungsikan lembaga-lembaga koordinasi yang ada.
d. Meningkatkan keterpaduan pembinaan unit-unit usaha yang terkait dengan bidang kepariwisataan.
e. Pemantapan keterpaduan pengembangan daerah tujuan wisata yang didukung oleh pengembangan jaringan perhubungan.
f. Penyusunan perencanaan pengembangan kepariwisataan secara menyeluruh dan terpadu serta pemantapan konsolidasi antar sektor terkait.

Refrensi :  A.J, Muljadi. 2012. KEPARIWISATAAN dan PERJALANAN. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.

Read More ....
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
Template Design by RAYENDAR